Matinya Kupu-Kupu di Dalam Perut

Standar

Dan matilah seekor kupu-kupu di dalam perut
setelah sayapnya koyak moyak
dihujam panasnya angin kemarau

Maka matilah seekor kupu-kupu di dalam perut
lenyap sudah kepakan sayapnya
pun impuls bahagia yang biasa ia edarkan putus sudah

Ya
Ada seekor kupu-kupu mati terbunuh di dalam perut
Ia tumbang dirajam amarah
lalu muntah diracun kalimat
kemudian rebah ditikam kata

Aku Bukan Tuan Putri

Standar

Aku tak ingin jadi tuan puteri
yang menunggu datangnya seorang yang tampan untuk meminang
sembari duduk di singgasana
sibuk menghitung perhiasan dan pakaian yang belum kupunya

aku lebih pandai jadi petualang
Karena faktanya,
aku telah menghabiskan masa kecilku juga dengan bertualang
Dan masih ingin menikmati sisa hidupku dengan cara yang sama

Aku ingin menjelajahi dunia bukan dengan kereta kencana
tapi dengan langkahku sendiri, dengan kakiku sendiri
Sambil mengutuki sisa rasa malas
di tiap tulang paha dan betisku, di tiap saraf dan ototku
setelah mereka begitu manja diperbudak kuda-kuda besi yang ini hari makin menjadi

Aku bukanlah tuan putri yang enggan menjejak kemana saja
Merasa cukup dengan keindahan sebatas layar dan hanya di ujung jari
Dan berpuas hanya dengan taman bunga di halaman istana
Aku ingin merekam setiap cantik dan indah dengan pupil dan irisku sendiri
Menertawakan keterbatasan lensa kamera
karena dua bola mata ciptaan-Nya jauh luar biasa

Ah, aku memang tak pantas jadi tuan putri
yang tiap hari mandi kembang di kolam istana
apa-apa tak perlu kuatir, dayang-dayang selalu siaga
mau makan enak tinggal minta
mau mahkota baru pun tinggal tunjuk
Duniaku bukan dunia yang seperti itu

Duniaku
adalah memaknai setiap perjalanan
menghargai nafas di tiap langkah

Duniaku
bukan menunggu kemewahan dalam diam
melainkan pendakian yang lelah, namun bisa kutertawakan

sampai tiba waktunya dia datang dengan kudanya yang tak kasat mata
lalu memintaku menjadi tuan putrinya
kemudian mengajakku bertualang kembali sambil berkata
“Kau adalah Tuan Putriku, dengan caramu”

Bumi, Alangkah Sulit Menjadi Dirimu

Standar

Kesabaran adalah Bumi¹, begitu kata Rendra
Rendra tidak salah, karena yang salah adalah aku
Tak mampu aku berguru pada bumi
Ibu dari nafas yang kuhirup bebas
Menua meski dengan menderita
Karena keburukanku dan jeniskulah yang menjadi nestapa baginya

Ambillah bumi ini sebagai contoh, ujar Nh. Dini
Dia kita injak,
kita ludahi,
kita belah,
kita tusuk,
dan kita lukai dengan berbagai alat
Tetapi dia selalu sabar dan diam,
selalu memberi kita makanan lezat dan berguna²
Oh, alangkah sulit menjadi dirimu
Alangkah sulit berguru padamu

Aku pernah menyimpan kata-kata Pramoedya baik-baik
Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik, katanya
Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya
tapi tentang surga,
dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini³

Apa sebegitu tidak pantasnya aku meniru kebaikanmu, Bumiku?
Sedikit saja, aku ingin berhasil menjadi dirimu
Menyerap semua keikhlasanmu yang susah sekali kumiliki

Apa sebegitu bodohnya aku belajar darimu, Bumiku?
Berulangkali mencoba, lebih banyak gagalnya
Diamku selalu saja berbeda dengan diammu
Aku tak pernah diinjak-injak, tak pernah diludahi
Tapi sabarku, tak pernah sama dengan sabarmu

Aku ingin bisa selalu bersabar,
seperti apa yang dikatakan Rendra tentangmu
Pun selalu berusaha diam ketika tertusuk dan tertikam,
ketika dilukai, dalam bentuk apapun
seperti apa yang diceritakan Nh. Dini tentangmu

Aku ingin bisa menghadapi semua cerita dengan caramu
sekalipun bukan cerita tentang surga
yang jelas tidak pernah terjadi disini

Bumi, alangkah sulit menjadi dirimu

1. W.S. Rendra dalam Paman Doblang
2. Nh. Dini dalam Sebuah Lorong di Kotaku
3. Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia

Kita dan Sebuah Sepeda

Standar

Rambut ikal setengah itu melambai-lambai, warnanya hitam, tapi sebagian keemasan terpanggang kemarau. Pipi yang membuntal dan mata yang besar menghiasi wajah bundar dengan kulit kecoklatan. Pemiliknya hanyalah seorang gadis kecil yang baru saja mengenal sekolah, mencoba lupa bahwa ia pernah gagal mencicip Taman Kanak-Kanak yang di benaknya indah begitu rupa.

Sebulan yang lewat, ia nyaris batal sekolah hanya karena kebiasaan buruknya. Sepele, hanya karena sulit dan nyaris tidak mau dibangunkan di pagi hari. Alhasil, ia ketinggalan teman-teman sebayanya yang mendaftar pagi-pagi, harus berpuas dengan jatah sekolah kloter kedua dengan resiko berpanas-panas, ngantuk, dan beradaptasi dengan wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Diawali dengan ngambek dan sesenggukan, ia akhirnya menerima meski dengan  hati yang patah.

Ah, sebenarnya gadis kecil itu terlalu takut, takut karena bapaknya kadung murka akibat penyakit “bau bantal” yang sudah mendarah daging.

“Biar saja dia tidak sekolah, salah sendiri kenapa susah dibangunkan,” kata bapaknya dengan nada yang menyebalkan hati.

Laki-laki tinggi dan berkulit gelap itu memang mengerikan sekali ketika marah. Tak ada yang berani menyahutnya kalau sudah begitu, sekalipun istrinya. Apa daya, bocah kusam itu hanya mampu tertunduk bungkam, mengutuki kesalahannya dalam diam. Mencoba memohon pertolongan pada keajaiban yang pada akhirnya datang meskipun tak sesuai harapan.

Sekolah di siang hari itu menyebalkan. Di saat semua teman-temannya tidur siang atau bahkan yang lebih buruk bermain dengan bebas tanpa seragam, ia harus dengan rela menahan kantuk, menghitung lidi-lidi sapu sepatah demi sepatah. Dan yang lebih mengerikan, muncullah siluet-siluet teman-temannya di papan tulis hitam lusuh di samping gurunya, melompati tali karet merah, atau berlari-lari sambil tertawa. Ah, ingin rasanya memaksa mamak memindahkannya ke sekolah pagi, tapi…ada wajah bapaknya muncul di kepala, diam, namun dengan tatapan yang tak perlu dijelaskan.

***

Vector_illustration_of_Happy_family_Fapp_11

Dia adalah ayahku dan aku memanggilnya bapak. Tipikal laki-laki keras kepala dan tegas luar biasa. Tak ada yang bisa membantahnya di rumah kecuali dirinya sendiri. Ia menyimpan cintanya dalam-dalam, begitu dalam sampai kami tak mampu melihatnya karena terlalu kasat mata. Tapi kami percaya, cinta itu nyata.

***

Tak ada istimewa dari gadis kecil itu. Ia lusuh dan tumbuh dengan sebagaimana mestinya, dengan keterbatasan yang ia nikmati meski kadang memilukan untuk dicandra memori. Tapi ia terbukti masih bisa tertawa lepas, masa kecil yang indah adalah obat bius terbaik. Cinta mamak dan mbah lanangnya begitu menyejukkan meskipun terkadang ia harus lelah menerka kasih dari sosok cinta pertamanya.

Hari itu, ia disodori tugas rumah dari gurunya. Menggambar pemandangan, perintahnya. Maka hasil menengok beberapa temannya yang tak selesai di kelas pun ia boyong ke rumah mungilnya dengan bangga. Dua gunung bersandingan, digambar menggunakan mistar. Sisanya hanyalah warna putih, kecuali sebuah jalan aspal besar dan rumah mungil yang sama kakunya.

Hari minggu esoknya, dikeluarkanlah buku gambar murah dengan helaian kertas tipis dan perkakasnya dari dalam tas. Dengan senyum yang pongah, ia keluar kamar dan mulai bersimpuh di lantai. Melanjutkan proyek, pikirnya. Tapi apa?

Senyum aneh terpatri di wajah bapaknya pagi itu. Nyaris tertawa mellihat gunung-gunung begitu lurus dan runcing di kertas gambar putri kecilnya. Tangan besarnya kemudian meraih karet penghapus dan menarik anaknya mendekat. Diraihnya kertas gambar itu, kemudian ia tersenyum sembari jarinya kesana kemari menunjuk garis-garis lurus di atas kertas.

“Gunung kok lancip. Sini bapak ajarin cara gambar gunung yang bener,” ujarnya penuh kasih.

Bapaknya adalah seorang pelukis terselubung. Lukisan-lukisannya hanya dikoleksi para sopir truk dan pengguna jalan. Beberapa yang terselamatkan masih bisa digantung di dinding rumah mbahnya. Seringkali, ia menaruh minat begitu besar pada cara bapaknya menarikan kuas. Kagum bagaimana warna-warna cat air itu ditoreh satu demi satu di atas kertas. Sampai pernah suatu hari, ngotot ia minta dibelikan cat air.

Gadis itu terenyuh sementara kata-kata dari lidahnya seolah terbang. Ada goresan indah yang mewaktu di hatinya, kasih yang diterka-terka itu benar ada. Tak percuma telah percaya.

***

Kadang aku berpikir, apa ia pernah bangga pada kami. Atas apa-apa yang kami perjuangkan selama sekolah, semata-mata hanya sekedar ingin membuatnya bahagia, membuatnya percaya bahwa kami ingin berterima kasih. Tapi ia tak pernah bertanya “bagaimana sekolahnya, Nak?” terlebih memuji, tak pernah ada yang seperti itu keluar dari mulutnya lalu sampai di telinga kami dengan indah.

Aku lebih sering cemburu, pada teman-temanku atas cinta-cinta pertama mereka.

***

Setiap hari Ani diantar oleh ayahnya ke sekolah, sementara Lia selalu menunggu papanya menjemputnya sepulang sekolah. Apa kabar gadis kecil itu? Selepas kelas 1, mamaknya melepasnya pergi sekolah sendiri, dan selalu pulang ramai-ramai bersama teman yang rumahnya satu arah.

Kemarin Dina bercerita kalau ia ke pasar bersama ayahnya mencari tas sekolah baru. Lebaran yang lalu, Mia juga jalan-jalan bersama orangtuanya berburu baju. Lalu apa gerangan yang dirasakan bocah itu? Tak pernah sekalipun seumur hidupnya ia ke pasar bersama bapaknya, merengek-rengek minta dibelikan ini itu. Tak pernah. Apapun yang dibutuhkan selalu dibicarakan lewat mamaknya. Siapa yang tahu, dalam hati kecilnya ia begitu mendamba, pergi jalan-jalan bersama bapaknya, menggandeng tangan bapaknya kemana saja, menarik-nari baju bapaknya sambil menunjuk barang yang dipinta. Tapi realita tak selalu sama dengan apa yang ada dalam benaknya. Dan jadilah itu semua cerita basi, yang ia simpan jauh-jauh di dalam peti.

Kadang ia bertanya, kenapa bapak tak pernah mengambil rapornya, mengantar dan menjemputnya di sekolah, atau mengajaknya jalan-jalan. Apa bapaknya tidak sayang? Bahkan setiap catur wulan, bapak hanya melihat rapornya untuk keperluan tanda tangan. Rapor diberikan, tanda tangan ditintakan, lalu dikembalikan tanpa ba bi bu, tanpa tersenyum, tanpa protes ini itu, pun tanpa pujian sekalipun memang diharapkan dan pantas diberikan. Apa itu namanya cinta? Ah, teman-temannya terlalu sering membuatnya iri saat rapor mereka dikritisi, saat prestasi mereka dipuji dan dihadiahi. Apalah artinya rasa iri dan cemburu darinya yang kecil itu, ia terlalu takut untuk bertanya, maka pertanyaan itu cukup dipendam dalam hati saja.

Maka sebuah sepedalah yang telah ditakdirkan menjawab gundah di hati bocah malang itu. Ya, sebuah sepeda yang akan dikenang seumur hidupnya, sebuah sepeda yang dapat dengan mudah membuatnya berlinang-linang ketika mengenangnya.

***

Adalah sebuah sepeda, warnanya ia sama sekali tak ingat. Sepeda itu tiba dirumah untuk pembuktian cinta, yang tak satupun tahu kecuali Tuhan dan semesta. Sepeda itu milik bapaknya.

Hari yang indah meski gadis kecil itu tak tahu. Jarum jam merangkak seperti biasa, menginjak garis demi garis seiring matahari yang semakin tinggi. Seragam putih merah sudah rapi terpasang di badan, tak kusut meski tanpa setrikaan. Tas hijau toska mengkilat sudah disiapkan. Tak ada yang istimewa dari cuaca, masih tengah hari yang sama. Mamak datang dengan sisir di tangan, sedikit mengumpat karena jepit-jepit rambut kecil raib sebagian. Siapa lagi yang disalahkan kalau bukan pemilik rambut pirang setengah ikal yang kini duduk manis menunggu umpatan-umpatan itu makin dekat di telinga.

“Dibeliiin barang kok gak dijaga betul-betul, pasti hilang satu-satu. Lama-lama habis,” suara mamak pecah di udara sementara sisir naik turun di atas rambut sejumput putrinya. Hari ini ia dikepang dua, klimis, dan rapi.

Sepatu sudah ditali dan ia siap melangkah seperti biasa, sendirian melewati lapangan bola dan kebun-kebun ubi sampai suara yang sama menahan langkahnya.

“Pergi bareng bapak aja, naik sepeda sana. Sekalian bapak mau ke depan,” kata mamak sesaat sebelum kaki mungil itu hendak meninggalkan rumah. Gadis kecil itu terkesiap, seolah ada kembang api yang meletup-letup di perutnya.

“Diantar bapak ke sekolah, dibonceng naik sepeda. Ahhh…ini yang ditunggu dari dulu,” pikirnya. Maka bersemangatlah hatinya hari itu, bertambahlah tekadnya untuk belajar lebih baik, jadi juara umum kalau perlu.

Sepeda dikeluarkan, ia melompat cepat ke boncengan, bapak mencaari keseimbangan, lalu melajuah dua roda itu diterpa angin yang menyejukkan. Ia tersenyum, bernyanyi-nyanyi kecil dalam hati. Kali pertama yang tak pernah ada lain kali yang sama. Sepeda itu membuktikan cinta, secara sederhana.

***

Maka kini wajahmu kupindai dengan teliti dalam memori
Sepeda, kita, dan seragam putih merahku adalah mozaik sejarah yang indah
Yang selalu bahagia ketika kuputar ulang, meski harus dengan berlinang-linang

Jengah

Standar

Aku mengulum hampa ini lamat-lamat
Merasakannya mengeringkan separuh tenggorokanku
Meninggalkan rasa kering yang tak bisa kujelaskan

1059179_10202930788495109_50234936_n

Sekalipun aku menghela nafas tanpa terlambat
Mencoba menikam hampa dalam otakku berkali-kali
Bertubi-tubi
Tapi dia tak kunjung mati

Maka disinilah Aku dalam dahaga
dan nyaris mati terbunuh hampa

Kepada Mendung Hujan Itu Tertawa

Standar

mendung tak ubahnya sebongkah batu raksasa
yang tak bergeming walau tertiup angin
menjatuhkan hujan seumpama dedebuan yang ditiup topan
namun butiran air itu enggan jatuh
ia tertatih berbalik, walaupun sulit katanya

ada, hujan yang berusaha kembali
ke langit asalnya
ya…ya…ia tengah berteman pada buruknya cuaca
dan kepada mendung ia berusaha tertawa

Hantu

Standar

begitu mengganggu
ada yang menjerat leherku tiap kali aku menghela napas
menekanku dari segala penjuru
bahkan ia mampu mencabik-cabik ketenangan lelapku

oh, belum pernah rasanya aku dicekik seperti ini
gamang di batas ambang

ia menggaruk-garuk isi kepalaku setiap hari
mengaduk-aduk mimpiku, memanfaatkan ketidakmampuanku
ya Allah, aku menderita
tolong beri aku petunjukmu

jengah rasanya,
malu pun mengiring jua,
lelah jadi biasa,
ya, aku dilanda ketakutan begitu rupa

ini adalah labirin memusingkan dan penuh tanda tanya
seperti hantu yang selalu dengan senang hati singgah di kepala,
bahkan tertawa-tawa sampai nyeri ulu hatiku dibuatnya
menebar dingin sampai sesak jantungku dikejar-kejarnya

ketika semua yang kulihat rasanya sama
ketika semua yang ingin kucari bedanya terasa kembar identik begitu rupa

aku takut, aku tak bisa